Minggu, 15 Mei 2011

Dokter Itu Kini Telah Tiada...Namun Resepnya Masih Tetap Menyembuhkan!

Ungkapan diatas tidaklah berlebihan untuk ditujukan kepada “dokter”-nya seluruh ummat manusia, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam…(asal jangan ditujukan kepada ustadz saya yang juga seorang dokter, karena beliau masih hidup alias masih ada…-semoga Allah senantiasa membimbingnya-)


Bicara tentang kesehatan dan penyakit, tentunya tidaklah lepas dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Karena segala yang kita lihat, kita rasa dan kita alami kesemuanya adalah makhluk ciptaan-Nya. Begitu pula dengan pengetahuan tentang kesehatan, yang merupakan salah satu cabang ‘ilmu dari bilangan tak terhingga dari ‘ilmu-‘ilmu dan pengetahuan Allah ‘Azza wa Jalla, yang di-ilhamkan kepada manusia…

“Katakanlah : ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.” [QS. Al Kahfi : 109]…Masya Allah, Laa Hawla wa laa quwwata illah billah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya : “Muslim yang kuat lebih baik dari muslim yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan” (HR. Imam Muslim, Ibnu Majah & Imam Ahmad)

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diatas telah menerangkan secara singkat dan jelas, bahwa seorang muslim (idealnya) haruslah memiliki “kesehatan” yang meliputi setiap ruang lingkup kehidupannya (“kesehatan” Internal maupun Eksternal). Baik kesehatan fisik, ekonomi, akal dan mental, serta jiwa, terlebih lagi dengan kesehatan keimanannya…Masya Allah !
Sabda (baca : resep) yang begitu singkat namun memiliki kedalaman makna yang paripurna…

Contoh kecil, didalam islam kita dianjurkan untuk senantiasa menjaga kebersihan tubuh, seperti bersuci (wudhu’) dan mandi agar tubuh kita senantiasa sehat dan bugar. Yang juga berimplikasi kepada kesehatan jiwa kita. Begitupun dengan diperintahkannya kita untuk mencari rezki dengan jalan yang halal. Dimana rezki itu akan mempengaruhi perjalanan hidup, kebersihan jiwa dan juga kesempurnaan iman kita. Dan tentu kaitan antara iman dan mencari rezki yang halal sangatlah erat tak terpisahkan.

Islam pun melarang atau mengharamkan KHAMR, MIRAS atau NARKOBA dan segala jenisnya atau apapun istilah lainnya. Tentu bukan sekedar pelarangan, disana terdapat salah satu hikmah yang begitu besar. Yaitu hikmah terjaganya kesehatan akal manusia. Karena islam sangatlah melindungi dan menghargai kesehatan akal bagi setiap manusia.

Adapun ajaran islam itu sendiri adalah sumber dan sekaligus metode untuk memperoleh kesehatan (baca : keselamatan), baik kesehatan di dunia maupun kesehatan di akhirat kelak.

Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, yang artinya : “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi islam itu sebagai agama bagimu.” [QS. Al Maaidah : 3]

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain seakan-akan mengingatkan kita, atas kelalaian diri dan jiwa kita...,yang artinya : “Nikmat yang paling sering dilupakan oleh manusia adalah nikmat waktu luang dan kesehatan.” (HR. Imam Bukhari, Tirmidzi & Ibnu Majah, Imam Ahmad, Ad Darimi)

Itulah dua diantara bilangan tak terhingga dari nikmat yang dikaruniakan Allah ‘Azza wa Jalla yang sering kita lalaikan. Entah sudah berapa banyak dari dua puluh empat jam untuk setiap hari yang kita miliki telah terbuang percuma. Adakah diantara detik, menit dan jam-jam yang kita jalani setiap hari, kita gunakan untuk menjadi “Pelayan Islam” ? atau malah menjadi “Pelawan Islam” ...wallahu a’lam.

Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, yang artinya : “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” [QS. Alam Nasyrah : 7]

Efisiensi penggunaan atau pemanfaatan waktu pun telah diajarkan dalam islam, berabad yang lalu ...Subhanallah !

Hal senada telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat sabdanya, yang artinya : “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang sedikit, akan tetapi dilakukan secara kontinyu (terus menerus).

Yaitu amalan yang dilakukan seirama dengan bergulirnya waktu yang kita lalui. Yang mana amalan tersebut akan membentuk pola hidup kita dalam proses kehidupan yang kita jalani. Dengan kata lain, ber-istiqomalah !

Sesuai firman Allah, yang artinya :“Dan tetap teguhlah sebagaimana diperintahkan kepadamu.” [QS. Asy Syura : 15]

Dan setiap muslim tertuntut untuk memberdayakan setiap potensi yang dimilikinya. Baik itu berupa potensi kesehatan ekonomi, fisik, pemikiran dan yang lainnya. Yang dipergunakan dalam membela dan meninggikan agama atau kalimat Allah. Dimana hal itu sangatlah perlu untuk disyukuri, karena ia telah terpilih sebagai seorang muslim. Yaitu seorang yang mengemban amanah dari Allah ‘Azza wa Jalla Sang Pemilik Alam.

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka (orang-orang kafir) kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang tertambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya (orang munafiq) ; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah, niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.” [QS. Al Anfaal : 60]

Itulah sedikit pelajaran dari berbagai pelajaran yang telah Allah ajarkan. Baik dalam kitab-kitab-Nya maupun lewat lisan dan sirah kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, yang artinya : "Katakanlah : 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali 'Imran : 31)

Maka cukuplah sepenggal kalimat ini yang pantas untuk kita renungi,
Dokter itu kini telah tiada…
Namun ”resep”-nya masih saja tetap menyembuhkan…


Sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar